Sepi tanpa Sapa
Sepi tanpa Sapa
Negeri itu bernama Kampung Sapa. Ada sembilan puluh sembilan orang yang tinggal di situ. Mereka hidup tanpa seorang pemimpin. Semua adalah pemimpin untuk dirinya sendiri dan jika perlu dan mampu akan membantu sebisa mungkin tetangga yang lain. Hingga Pak Ngah pulang dari pelancongan.
Kampung itu memang punya kebiasaan meminta satu orang dari mereka untuk pergi selama beberapa tahun dari kampung demi melihat dunia luar dan menceritakannya nanti ketika pulang. Tak semua orang bisa melakukan itu. Ladang-ladang harus diurus setiap hari. Pergi pagi pulang petang, tak ada waktu untuk berpetualang.
Pak Ngah memulai ceritanya di pusat sosialiasi Kampung Sapa, Kedai Kopi Kak Kemala. Pak Ngah menyampaikan hanya kampung mereka sajalah rupanya yang tak memiliki pemimpin. Negeri-negeri lain yang ia telah kunjungi semua memiliki pemimpin.
Orang-orang yang mendengar Pak Ngah terheran-heran. “Apa yang dilakukan seorang pemimpin Pak Ngah?” tanya seorang pemuda.
Pak Ngah tidak menjawab, ia malah bertanya, “apa yang dilakukan petani?”
Pemuda itu tergelak, “bertani. Semua orang tentu tahu.”
“Lalu mengapa pula engkau bertanya apa yang dilakukan pemimpin. Apalagi yang dilakukan seorang pemimpin kalau bukan memimpin.”
Jawaban Pak Ngah terlalu spektakuler. Jawaban yang membuat riuh Kedai Kopi Kak Kemala. Jawaban yang membuat mereka berkumpul kembali Kedai Kopi Kak Kemala dengan jumlah yang utuh: seratus orang. Tidak kurang. Tidak lebih. Mereka akan memilih pemimpin. Orang yang kerjanya memimpin mereka.
Setelah perdebatan sengit, ketika senja mulai merah, Kampung Sapa akhirnya memiliki seorang pemimpin, Tuk Sepi. Pemilihan Tuk Sepi sebagai pemimpin tak lepas dari peran Pak Ngah yang memberi kisi-kisi dan ciri-ciri pemimpin ketika debat di antara warga terlalu panas. Menurut Pak Ngah dari negeri-negeri yang ia datangi, paling tidak ada satu ciri utama dari pemimpin suatu negeri. Ciri itu tak lain dan tak bukan adalah ia adalah orang yang paling berbeda dibanding warga yang lain.
Ciri yang diberikan Pak Ngah memiliki kekuatan untuk meneroka kemungkinan politis baru dari perbincangan warga Kampung Sapa. Awalnya mereka mengira seorang pemimpin haruslah pria. Kelompok yang setuju dengan ini memiliki argumen, pemimpin harus sering-sering bertemu dengan warga. Kalau pemimpin yang terpilih perempuan agak janggal rasanya melihat perempuan seharian ada di Kedai Kopi Kak Kemala. Kecuali kalau Kak Kemala sendiri yang menjadi pemimpinnya. Usul itu langsung ditolak Kak Kemala, ia sudah sibuk menyaring kopi, ia tak ada waktu menjaring aspirasi.
Sebagian lagi mengira pemimpin yang harus dipilih adalah orang yang memiliki ladang paling besar di antara semua warga. Menjadi pemimpin tentu akan menyita waktu, ia pasti butuh orang untuk menggantikannya mengurus ladangnya. Kalau ladangnya terlalu kecil, bagi hasil antara pemilik dan pengurus ladang tidak akan mencukupi untuk hidup kedua belah pihak. Sebagian yang lain mengusulkan kalau pemimpin yang mereka pilih haruslah yang paling pintar. Sayangnya usul ini tak lama bertahan. Semua warga sadar, mereka semua buta huruf. Sulit kiranya menakar tingkat kepintaran di antara orang-orang yang tak bisa membaca apalagi menulis.
Tuk Sepi tak memberikan pidato pertama sebagai pemimpin. Orang-orang maklum. Bukankah karena sifatnya yang pendiam itulah Tuk Sepi dipilih warga sebagai pemimpin. Ia lah satu-satunya orang yang tak ramah lagi suka berbincang sehabis bekerja di Kedai Kopi Kak Kemala selama ini. Tuk Sepi akan langsung pulang ke rumah setelah selesai dengan ladangnya. Sandalnya ia lepas di depan pintu. Pintu rumah ia buka dengan kunci yang ia letakkan di lubang angin di atas pintu. Ia akan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah bersalin pakaian, ia akan menyeduh teh serai kesukaannya. Lalu ia akan duduk di depan jendela rumahnya yang menghadap ke Barat. Tak ada lain yang ia pikirkan selain mencari jawaban mengapa orang-orang di kampung ini suka berdebat dan ribut untuk hal-hal yang tak perlu.
Tuk Sepi memulai hari pertamanya sebagai pemimpin dengan melontarkan program kerja yang unik. Untuk pertama kalinya suara Tuk Sepi terdengar di keramaian. Momen langka tetapi mulai sore itu mungkin akan menjadi satu hal yang lazim.
“Setelah mempertimbangkan masak-masak, aku meminta kalian semua untuk menanam Cakar Beruang di halaman rumah. Aku kira perbedaan-perbedaan dalam pikiran kalian yang membuat kalian selalu ribut di Kedai Kopi Kak Kemala ini mungkin bisa sedikit berkurang kalau kita semua memiliki halaman yang mirip.”
Orang-orang bertepuk tangan. Mereka merasakan sensasi yang berbeda setalah memiliki pemimpin. Hidup mereka semacam mulai memiliki tujuan. Kemarin-kemarin Kampung Sapa memang seperti sampan, cukup untuk tak tenggelam, tetapi ya di situ-situ saja tak ke mana-mana. Keberadaan Tuk Sepi membuat kapal mereka sekarang punya tujuan. Sebuah pelabuhan yang telah ditentukan.
Besok paginya halaman tiap rumah di Kampung Sapa sudah penuh dengan Cotyledon tomentosa, tanaman Cakar Beruang. Persoalan baru muncul. Dari penyelidikan Tuk Sepi, warna pot di setiap rumah ternyata berbeda-beda. Ada yang berwarna hitam, ada yang berwarna kuning, ada pula yang berwarna biru. Kondisi untuk tentu tak ideal. Sorenya di Kedai Kopi Kak Kemala memberikan pengumuman baru kalau pot yang dipakai haruslah berwarna merah bata. Orang-orang yang mendengarkan pengumuman itu mulai takjub dengan pekerjaan seorang pemimpin. Sebelum ini tak ada seorang pun di kampung ini yang punya waktu memeriksa halaman orang lain.
Sebulan setelah program kerja itu dicetuskan, persoalan muncul. Banyak tanaman Cakar Beruang yang dimiliki warga desa layu ada pula yang mulai membusuk. Dari pengamatan Tuk Sepi terkait bagaimana warga Kampung Sapa merawat tanaman mereka, ia melihat dua kecenderungan ekstrem. Satu kelompok terlalu sering menyiram, sementara satu lagi hampir tak pernah menyiram tanaman mereka. Demi mencegah kegagalan programnya ini, sore itu ia segera memberikan pengumuman baru di Kedai Kopi Kak Kemala. Ia meminta warganya untuk menyiram Cakar Beruangnya minimal dua kali sehari dan setiap pot cukup disiram dengan air sebanyak seperlima cangkir minum. Warga tercengang mendengar taklimat baru dari Tuk Sepi ini. Betapa presisinya arahan Tuk Sepi.
Selepas sukses besar program penyeragaman halaman, Tuk Sepi mulai masuk ke perkara-perkara lain dalam sendi kehidupan warga Kampung Sapa. Ia mulai meminta mereka menggunakan pakaian dengan warna hitam jika hendak pergi ke ladang. Ia meminta mereka menggunakan pakaian dengan warna hijau pucuk pisang jika menghadiri kenduri atau pesta pernikahan. Sementara jika sedang di rumah baik kiranya jika menggunakan pakaian berwarna putih. Tuk Sepi juga memberikan arahan menu makanan dalam seminggu yang bisa dimakan oleh warga. Tak lupa minuman yang diminum saat pagi dan sore.
Atas arahan-arahan Tuk Sepi ini warga merasa kehidupan mereka semakin teratur. Semakin banyak hal yang harus mereka kerjakan di rumah agar sesuai dengan pengumuman yang diberikan Tuk Sepi. Akibatnya jelas, Kedai Kopi Kak Kemala sepi pengunjung. Warga juga menjadi tak sensitif lagi mengenai kabar satu sama lain. Mereka tak punya waktu untuk itu.
Perlahan tapi pasti suasana Kampung Sapa berubah. Tak ada lagi kehangatan, tak ada lagi perbedaan. Dan terutama tak ada lagi sapa. Sapa adalah awal mula perbincangan. Perbincangan membuka kemungkinan adanya perbedaan. Perbedaan butuh waktu untuk sampai pada penyatuan pendapat atau sekadar penerimaan bahwa mereka memang berbeda. Pada intinya sapa adalah jalan masuk pada kemungkinan buang-buang waktu. Karena itu mereka tak lagi saling menyapa. Dan kini tak ada negeri yang lebih sepi ketimbang Kampung Sapa.
17 nota