Jangan Menghancurkan Karakter Anak
Suasana kegiatan belajar mulai dapat dikondisikan. Anak – anak mulai aktif masuk ke sekolah. Beberapa tanggapan, ada yang semangat belajar, ada juga yang akan merindukan masa pembelajaran daring, karena memiliki waktu yang lebih panjang. Respon yang didapatkan beragam. Karena hampir sekitar 2 tahun, situasi dan kondisi tak sekondusif dahulu, anak – anak hampir kehilangan fitrahnya. Kultur sosial yang mulai luntur, dan anti sosial yang semakin adiktif, rebahan yang semakin bertambah. Tentu semua tidak bisa hanya menyalahkan keadaan, apalagi harus menyalahkan tanpa adanya aksi cepat tanggap, ataupun terlalu skeptis dengan statis. Sibuk mengunggah cuitan, tanpa mau ikut – ikutan.
Tuhan, tak mungkin sedang berdrama. Setiap makhluk harus selalu sadar tentang apa yang seharusnya dijaga. Anak – anak kita semua, adalah titipan yang sangat berharga untuk dijaga selama – lamanya. Mereka akan menjadi aset dunia akhirat yang tak akan pernah bisa terjual berapapun rupiah harganya. Sama halnya dengan guru, bagaimanapun caranya seorang guru tetaplah menjadi seorang figur pertama atau pengganti orang tuanya saat di sekolah dan di kelasnya.
Tapi, maraknya kejadian yang ada. Apa mugkin kita semua lupa dengan kewajiban kita sebagai orang tua atau pendidik pada semestinya. Atau mungkin kita kewalahan dengan perubahan iklim pada setiap aspeknya? Mungkin saja, kita terlalu lama rebahan sampai terperanjat saat dunia dan tanggung jawab memanggil kita. Publik mengabarkan begitu hebat. Sontak, semua lapisan masyarakat kini mulai serabutan berebut nasib dan jatahnya.
Miris sebenarnya, dengan reality shock yang tercipta pasca pandemi. Apalagi di bidang pendidikan, di masa terbaik anak anak yang pasti akan dirindukan. Masa pembentukan karakternya, masa penggemblengan mentalnya, masa pendadaran dirinya. Seharusnya, masa minimum untuk mengenyam pendidikan selama 12 tahun, bisa mereka nikmati hak dan kewajibannya secara sempurna, tapi di masa seperti ini kita justru melalaikannya. Adanya perubahan jadwal belajar mengajar campuran ini, memang lumayan ‘sedikit’ membuat para tenaga pendidik memutarbalikkan fikiran bahkan arah tujuan pendidikannya. Ternyata bukan hanya imun saja yang kian melemah. Tapi kepercayaan pada diri, baik saat beinteraksi, saat mengajar, saat beraktivitas. Itu semua sangat mempengaruhi iklim peradaban di masa yang akan datang. Karena, mau tidak mau, kita tidak akan pernah hidup abadi selamanya, akan lahir generasi dari anak cucu kita yang akan melanjutkan perjuangan selanjutnya.
Harap harap pasti, ternyata tak pernah digarap apa yang harusnya terjadi. Sungguh, realita sangatlah menyakitkan. Ternyata, bukan pandemi yang membunuh karakter itu semua. Tapi, memang sudah terkikis hati nurani kita sebagai pendidik seharusnya. Seharusnya, anak – anak sangat responsif dan tentu bahagia saat menyambut hari harinya saat sekolah. Bukan karena berkurangnya pekerjaan rumah yang menggunung saat pembelajaran daring, tapi mereka dapat bertemu orang tua keduanya serta kawan – kawannya. Ternyata tidak, semua impulsif. Begitupun seharusnya terjadi pada guru – gurunya. Seharusnya bisa lebih semangat karena bertemu murid muridnya di sekolah. Bukannya guru yang baik akan selalu dirindukan oleh murid – muridnya?
Realita yang terjadi berubah sedemikian rupa dahsyatnya. Banyak keterbengkalaian terjadi di segala penjuru. Suasana yang terjadi, yang kami kira akan menjadi suasana yang paling dirindukan, ternyata justru berbalik arah. Guru tidak merindukan muridnya, apalah muridnya yang semakin tidak terarahkan. Jamkos atau jam kosong saat pembelajaran marak terjadi dimana mana. Entah lupa atau memang suah terbiasa meninggalkan jejak tanpa dosa. Ternyata hal ini sangat memberikan pengaruh yang cukup besar pada pembentukan karakter setiap anak.
Guru hanya sekedar memberikan tugas untuk dikerjakan, jika masih ingat. Kalau tidak, anak anak sama sekali tidak mendapatkan hak seharusnya sebagai murid. Mereka tidak mendapatkan hak seharusnya dalam wujud ilmu, atau mungkin siraman rohani, pembenahan akhlak, sapaan, teguran, dan masih banyak pendidikan yang didapatkan dari keteladanan seorang guru. Guru memberikan sebuah tugas atau kewajiban untuk dikerjakan, mereka mendapatkan hak dari guru yaitu beruba ilmu, teladan, contoh, nasehat, pesan singkat dan lain sebagainya. Lalu, apa hak yang didapatkan dari seorang murid? Tentu, guru juga mendapatkan hak berupa kecintaan, penghormatan bahkan doa dari seorang murid untuk gurunya.
Lantas, apabila kita hanya memberikan suatu kewajiban tanpa memberi hak seharusnya kepada seorang murid, atau hanya ingin mendapatkan pemenuhan hak; kita ingin dihormati, dicintai, didoakan, tetapi kita tidak memberikan hak dan melaksanakan tugas seharusnya.
Lantas, apakah selayaknya mendapatkan itu semua? Dzhalim!
Seharusnya kita berkaca pada diri. Kita tahu dan mengerti apa tugas dan kewajiban. Tidak bisa hanya sekedar menuntut, marah, protes tanpa kita sadar apa yang seharusnya dilakukan bersama. Lantas, kita hanya bisa marah? Memberikan nilai yang buruk? Menghakimi seorang murid, anak nakal? Anak bodoh? Anak malas? Tanpa berkaca bahwa sesungguhnya guru itu sendiri yang lebih tidak tahu orang lain apalagi dirinya sendiri. Jam Kosong, akan menjadi dosa yang sangat besar bagi seorang pendidik. Lain halnya, memang jika ada kepentingan yang sangat mendesak, sampai nyawa menjadi ancamannya. Tapi, jika hanya ingin beristirahat leha leha, bosan bertemu dengan anak anak, ataupun ingin memenuhi hak yang tidak menjadi prioritasnya. Cobalah kita bertanya dan menerawang, peradaban apa yang tercipta dalam kehidupan anak cucu kita?
Masa yang paling menyenangkan dan yang dirindukan, adalah masa saat menuntut ilmu. Sampai kapanpun jenjangnya, jika tujuannya untuk menuntut ilmu pasti akan menjadi suatu perjalanan yang begitu menyenangkan dan sulit untuk dilupakan. Jadi, jangan pernah nodai sejarah anak anak kita hanya karena meninggalkan mereka tetap menjadi bodoh sebab ketidaksadaran kita. Jamkos memang terasa nikmat, menyenangkan, tidak melelahkan. Tapi, percayalah. Kenikmatan dan ketidaklelahan seorang guru itulah yang akan menjadi dosa paling besar untuk dihisab di akhir hayatnya. Wallahu a’lam.